Rumah Adat Yogyakarta salah satunya adalah rumah pada Bangsal Kencono Keraton Ngayogyakarta. Rumah ini adalah rumah yang dibangun oleh raja Yogya yang pertama yaitu Sri Sultan Hamengkubuwono ke I.

Bangunan ini adalah rumah kediaman dan juga sebuah istana untuk para raja Ngayogyakartan Hadiningrat berserta kerabatnya dari dulu sampai sekarang.

Rumah Adat Yogyakarta

Banyak pihak menganggap Bangsal Kencono Keraton sebagai bangunan yang memiliki desain terbaik dan telah menerapkan tata kelola ruang layaknya sebuah rumah modern.

Selain itu, rumah adat tersebut pun memiliki berbagai macam keunikan yang bisa dilihat dari sisi arsitekturnya dan dari sisi nilai filosofis yang terkandung di dalamnya.
Kompleks dari rumah Bangsal Kencono dibuat tersusun dengan bentuk dari beberapa bangunan yang memiliki fungsinya masing-masing.

Fungsi dari setiap ruang ini akan disesuaikan pada kegunaan rumah adat Yogyakarta sebagai bangunan istana kerajaan. Dalam Bangsal Kencono terdiri dari 3 bagian, yaitu bagian depan, bagian inti, serta bagian belakang.

Berikut adalah filosofi dari setiap ruangan yang ada.

1. Filosofi Bagian Depan

Desain Rumah Adat Yogyakarta

Pada bagian depan dari rumah adat kota Yogyakarta dibagi menjadi beberapa bagian diantarnya adalah bagian Gladhag Pangurakan, pelataran Alun-Alun Lor, serta Masjid Gedhe Kesultanan.

Gladhag Pangurakan merupakan sebuah gerbang utama sebagai pintu masuk untuk bisa masuk ke dalam istana. Gerbang ini berada pada utara Keraton dengan 2 pintu gerbang yaitu Gerbang Gladhag serta Gerbang Pangurakan atau gerbang yang lebih dalam.

Sekarang bagian keraton pada Rumah Adat Yogyakarta yaitu alun-alun lor lebih dialih fungsikan sebagai tempat untuk menyajikan konser-konser musik, acara rapat akbar, acara kampanye, dan juga diaplikasikan untuk tempat sepak bola oleh warga sekitar, dan tempat parkir kendaraan.

Sedangkan kompleks Mesjid Gedhe Kesultanan merupakan bangunan masjid kesultanan yang digunakan para punggawa kesultanan sebagai tempat untuk melaksanakan ibadah. Letaknya berlokasi di sebelah barat Alun-alun utara.
Masjid ini juga sering kali disebut sebagai Mesjid Gedhe Kauman dengan desain arsitektur berbentuk sebuah tajug persegi yang mempunyai pintu utama pada sisi timur dan sisi utara bangunan.

2. Filosofi Bagian Inti Bangunan

Gambar Rumah Adat Yogyakarta

Pada bagian Inti dari Rumah adat Yogyakarta memiliki beberapa bagian yang terdiri dari Kompleks Pagelaran, kompleks Kamandhungan Kidul, komplek Sri Manganti, kompleks Siti Hinggil Ler, kompleks Kamagangan, komplek Kedhaton, kompleks Siti Hingil Kidul, dan kompleks Kamandhungan Lor.

Pada Bangsal Pagelaran merupakan sebuah bangunan yang dibuat khusus sebagai tempat untuk para penggawa kesultanan ketika akan menghadap kepada sultan pada saat upacara resmi.

Kamandhungan Ler berada pada sebelah utara. Bangunan ini difungsikan untuk mengadili pelaku perkara-perkara berat dengan ancaman yang cukup mengerikan yaitu hukuman mati. Pengadilan di bangunan dan dipimpin sendiri oleh Sultan selaku hakimnya.

Saat, Kamandhungan Lor menjadi tempat yang digunakan untuk pelaksanaan upacara adat diantaranya adalah Grebeg serta sekaten.

Sri Manganti saat ini berlokasi di sebelah selatan dari kompleks Kamandhungan Ler yang berhubungan Regol Sri Manganti. Pada zamannya bagian tersebut difungsikan untuk tempat pada saat menerima tamu-tamu kerajaan.

Tapi, saat ini tempat tersebut justru lebih difungsikan sebagai tempat menyimpan pusaka keraton. Pustaka tersebut berupa berbagai alat musik tradisional seperti gamelan yang biasanya digunakan untuk penyelenggaraan acara even pariwisata oleh keraton.

Beberapa bagian di atas merupakan bagian yang ada pada rumah Adat Yogyakarta Keraton Ngayogyakarta Hadiningrat. Ternyata fungsi utama dari setiap bagian tersebut pada zamannya sangat berbeda dengan zaman sekarang.