Rumah adat Minangkabau atau yang sering dikenal dengan Rumah Gadang merupakan sebutan bagi rumah tradisional yang berasal dari suku Minangkabau. Rumah Gadang terbilang sebagai rumah yang unik sebab memiliki bentuk yang menyerupai sebuah kapal dengan bagian kedua sisi kanan dan kiri runcing. Selain keunikannya rumah Gadang juga memiliki makan serta filosofi tersendiri pada setiap sudut bagian yang ada.

Takambang Jadi Guru adalah sebuah falsafah hidup masyarakat Minangkabau yang sampai saat ini masih digunakan. Falsafah tersebut mengajarkan bahwa semua hal itu harus memalui beberapa proses yaitu meniru dan juga belajar dari keadaan lingkungan yang ada di sekitar, termasuk pada saat membangun rumah juga tetap menggunakannya.

Berikut adalah makna dan falsafah rumah adat Minangkabau dari berbagai sudut bagiannya.

1. Bagian Atap Rumah Minangkabau

Atap Rumah Gadang

Umumnya pada bagian atap dibuat dengan bahan dasar dari ijuk yang dijalin, kemudian pada ujung atap dibuat lebih meruncing membentuk sebuah gonjong. Penggunaan bahan dasar ijuk pada atap melambangkan simbol rumah yang ada di Minangkabau adalah jenis rumah yang ramah lingkungan. Bentuk atap kerap kali dianggap memiliki kemiripan dengan tanduk dari hewan kerbau.

Tapi tidak jarang orang juga menyebutkan bahwa rumah adat Gadang bentuknya meniru Siriah Basusun atau beberapa daun sirih yang disusun dengan rapi. Hal tersebut pun dapat menyimbolkan bahwa sebuah rumah gadang adalah tali penyambung bagi silaturahmi serta adanya kekeluargaan. Sebagaimana falsafah sirih yang pada umumnya diaplikasikan sebagai simbol dari penyambung silaturahmi.

2. Bangunan Rumah Minangkabau

Desain Rumah Gadang

Rumah adat Minangkabau memiliki bangunan dengan bentuk seperti segi empat memanjang yang hampir seluruh bahagia yang ada dibuat dengan bahan dasar dari kayu dan berbagai macam hasil alam lainnya.

Bahan tersebut diaplikasikan pada bagian dinding, lantai, loteng dan juga pada tangga rumah. Rumah Gadang dianggap sebagai rumah dengan tahan gempa. Bahkan teknologi mutakhir ini telah digunakan sejak abad lalu dengan bentuk pasak.

Rumah Gadang yang asli dalam proses pembuatannya tidak memerlukan paku agar bisa merekatkan maupun menyambungkan dua bagian bahan dasar kayu. Tapi masyarakat Minang justru menggunakan pasak. Jadi apabila suatu saat terjadi gempa, rumah yang ada hanya berayun mengikuti ritme gempa yang ada. Dengan demikian ketika gempa rumah tidak akan roboh.

3. Ukiran Yang Diaplikasikan

Atap Rumah Minangkabau

Ketika menambah unsur seni pada bagian dinding Rumah Gadang biasanya masyarakat Minang akan menambah berbagai ukiran khas motif dari daerah Minangkabau. Motif yang digunakan terinspirasi dari keadaan alam sekitar, sebagai contoh motif itiak patang, motif kaluak paku, dan beberapa jenis motif lain.

Dalam proses pembuatan ukiran biasanya akan di cat menggunakan warna yang khas berasal dari daerah Minang yaitu kombinasi antara warna merah, hitam, kuning dan hijau.

4. Bagian Depan Rumah

Rumah Adat Minangkabau

Rumah adat Minangkabau memang selalu dibuat dengan bentuk yang tinggi menyerupai rumah panggung. Pembuatan rumah yang tinggi memiliki tujuan agar ruang yang ada pada bagian bawah dapat digunakan untuk fungsi yang lain.

Di bagian depan Rumah Gadang biasanya akan dibuatkan tangga. Pada zaman dahulu pada bagian yang ada di bawah tangga terdapat batu serta cibuak yang berfungsi untuk mencuci kaki.

Rumah gadang pada umumnya mempunyai kolam ikan yang berada di depan rumah. Kolam tersebut digunakan dengan fungsi yang beragam, selain untuk memelihara beberapa ikan, kolam tersebut juga sebagai sumber air yang akan digunakan untuk aktivitas sehari-hari seperti mandi dan mencuci.

Beberapa bagian dari rumah adat Minangkabau tidak dibuat dengan seadanya, seperti yang diketahui di atas bahwa setiap bagian yang ada memiliki falsafah tersendiri.